Selasa, 03 Desember 2013

Antara Fujur dan Taqwa


Fujur dan Taqwa..mungkinkah berada di waktu yang bersamaan?
Jawabannya adalah: tidak mungkin!
Tapi, beberapa saat bersisian mungkin.
Tidak lama. Hanya beberapa saat saja.
Nah, disitulah kemudian manusia memilih..
Akankah dia merasa nyaman dengan ke-fujur-annya? Atau merasa gelisah dengan ketidak-taqwa-anya..

Memilih..
Hidup memang sebuah pilihan..
Fa alhamahaa fujuuroha wa taqwaahaa..

“Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams:8-10)

Maka di sinilah hati berperan..

Hati adalah bagaikan sebuah pemancar. Pemancar untuk menunjuki manusia sebagai penggunanya..
Dari sanalah terasakan apakah manusia sebagai penggunanya mempunyai sinyal yang kuat terhadap Rabb-nya ataukan sebaliknya..

Hati adalah tempat bertanya. Karena hati itu membawa sifat fitrahnya yang tunduk pada Sang Pencipta..

“Setiap manusia lahir dalam keadaan fithrah. Orangtuanyalah yang mewarnainya dengan yahudi, nasrani atau majusi” (HR. Muslim)


Hati adalah laksana jiwa bagi manusia. Kualitas seorang manusia tergantug pada hatinya. Jika hatinya baik, maka baiklah seluruh tubuh dan jiwanya. Namun, jika hatinya buruk, maka buruklah seluruh tubuh dan jiwanya.

“Didalam tubuh manusia ada segumpal daging.. Bila daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Demikian pula sebaliknya.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Bertanyalah pada hati dan nafsumu. Kebaikan itu ialah apa yag menyebabkan hati dan jiwa tenteram kepadannya. Sedangkan kejahatan adalah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada.” (HR.Muslim)
Hakikat Cinta..

Ada ratusan bahkan ribuan kissah-kissah tentang cinta di muka bumi. Kissah yang hampir di pastikan pernah menyentuh sisi kehidupan setiap manusia.

Alloh telah telah menciptakan perbuatan dan rasa yang di alami manusia sebagai makhluqNya, tidak ada khilaf dalam seluruh kitab Tauhid bahkan dalam kitab Aqidah imam yang empat.

Disinilah saya mencoba mengejewantahkan cinta kedalam suatu bejana besar dan mengambil inti dari semua yang di pahami banyak orang tentang cinta..

Menyimpulkan suatu hakikat cinta yang membuatnya menjadi agung dalam diri dan pandangan seluruh jiwa yang memilikinya.. Menjadikannya suatu ruh yang menyemangati.. dan menjadikannya indah dalam kondisi apapun..

Bahwa cinta, dari beberapa kissah yang saya sampaikan, tergambar jelas tentang adanya penghambaan terhadap yang di cintai, pengorbanan untuk yang di cintai, dan segenap loyalitas entah itu berwujud kesetiaan, pemberian tanpa pamrih, pemenuhan kebutuhan, sampai rangkaian sebuah doa..
Bahwa cinta itu begitu agung..
Bahwa tidak ada satu nestapapun di dalamnya jika sudah bersanding dengan keikhasan..
Bahwa fitrahnya cinta itu adalah berbagi, adalah pemberian tanpa pamrih, adalah pengorbanan, adalah penghambaan, dan memang seperti itu adanya..

“Jika cinta berawal dan berakhir karena Alloh,
Maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
Pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki:
Selamanya memberi yang bisa kita berikan,
Selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai..” -Anis Matta-

Bahwa tahta yang paling tinggi dalam bercinta adalah kemampuan dimana jiwa yang memilikinya justru mampu berbagi segalanya atas nama cinta.. dan berbagi yang paling sempurna adalah berbagi bersama Rabb..
Dzat yang pada hakikatnya adalah pemilik seluruh cinta..







Tidak ada komentar:

Posting Komentar