Fujur dan Taqwa..mungkinkah berada di waktu yang bersamaan?
Jawabannya adalah: tidak
mungkin!
Tapi, beberapa saat bersisian
mungkin.
Tidak lama. Hanya beberapa
saat saja.
Nah, disitulah kemudian
manusia memilih..
Akankah dia merasa nyaman
dengan ke-fujur-annya? Atau merasa gelisah dengan ketidak-taqwa-anya..
Memilih..
Hidup memang sebuah pilihan..
Fa alhamahaa fujuuroha wa
taqwaahaa..
“Maka Dia mengilhamkan
kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yang
mensucikan jiwa itu. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy
Syams:8-10)
Maka di sinilah hati
berperan..
Hati adalah bagaikan sebuah
pemancar. Pemancar untuk menunjuki manusia sebagai penggunanya..
Dari sanalah terasakan apakah
manusia sebagai penggunanya mempunyai sinyal yang kuat terhadap Rabb-nya
ataukan sebaliknya..
Hati adalah tempat bertanya.
Karena hati itu membawa sifat fitrahnya yang tunduk pada Sang Pencipta..
“Setiap manusia lahir dalam keadaan fithrah. Orangtuanyalah yang mewarnainya dengan yahudi, nasrani atau majusi” (HR. Muslim)
“Setiap manusia lahir dalam keadaan fithrah. Orangtuanyalah yang mewarnainya dengan yahudi, nasrani atau majusi” (HR. Muslim)
Hati adalah laksana jiwa bagi
manusia. Kualitas seorang manusia tergantug pada hatinya. Jika hatinya baik,
maka baiklah seluruh tubuh dan jiwanya. Namun, jika hatinya buruk, maka
buruklah seluruh tubuh dan jiwanya.
“Didalam tubuh manusia ada
segumpal daging.. Bila daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Demikian
pula sebaliknya.” (HR. Bukhari-Muslim)
“Bertanyalah pada hati dan nafsumu. Kebaikan itu ialah apa yag menyebabkan hati dan jiwa tenteram kepadannya. Sedangkan kejahatan adalah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada.” (HR.Muslim)
“Bertanyalah pada hati dan nafsumu. Kebaikan itu ialah apa yag menyebabkan hati dan jiwa tenteram kepadannya. Sedangkan kejahatan adalah apa yang merisaukan jiwa dan menyebabkan ganjalan dalam dada.” (HR.Muslim)
Hakikat
Cinta..
Ada ratusan bahkan ribuan kissah-kissah tentang cinta di muka bumi. Kissah yang hampir
di pastikan pernah menyentuh sisi kehidupan setiap manusia.
Alloh telah telah menciptakan
perbuatan dan rasa yang di alami manusia sebagai makhluqNya, tidak ada khilaf
dalam seluruh kitab Tauhid bahkan dalam kitab Aqidah imam yang empat.
Disinilah saya mencoba
mengejewantahkan cinta kedalam suatu
bejana besar dan mengambil inti dari semua yang di pahami banyak orang tentang cinta..
Menyimpulkan suatu hakikat cinta yang membuatnya menjadi agung dalam diri dan pandangan seluruh jiwa yang memilikinya.. Menjadikannya suatu ruh yang menyemangati.. dan menjadikannya indah dalam kondisi apapun..
Menyimpulkan suatu hakikat cinta yang membuatnya menjadi agung dalam diri dan pandangan seluruh jiwa yang memilikinya.. Menjadikannya suatu ruh yang menyemangati.. dan menjadikannya indah dalam kondisi apapun..
Bahwa cinta, dari beberapa kissah yang saya sampaikan, tergambar jelas
tentang adanya penghambaan terhadap yang di cintai,
pengorbanan untuk yang di cintai, dan
segenap loyalitas entah itu berwujud kesetiaan, pemberian tanpa pamrih,
pemenuhan kebutuhan, sampai rangkaian sebuah doa..
Bahwa cinta itu begitu agung..
Bahwa tidak ada satu nestapapun
di dalamnya jika sudah bersanding dengan keikhasan..
Bahwa fitrahnya cinta itu adalah berbagi, adalah
pemberian tanpa pamrih, adalah pengorbanan, adalah penghambaan, dan memang
seperti itu adanya..
“Jika cinta berawal dan berakhir karena Alloh,
Maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta
padaNya,
Pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki:
Selamanya memberi yang bisa kita berikan,
Selamanya membahagiakan orang-orang yang kita
cintai..” -Anis Matta-
Bahwa tahta yang paling
tinggi dalam bercinta adalah
kemampuan dimana jiwa yang memilikinya justru mampu berbagi segalanya atas nama
cinta.. dan berbagi yang paling sempurna
adalah berbagi bersama Rabb..
Dzat yang pada hakikatnya
adalah pemilik seluruh cinta..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar