Selasa, 03 Desember 2013

Cinta itu fitrah

Para pujangga sepakat, cinta ada di hati. Kedahsyatan cinta melahirkan jutaan inspirasi. Ia tak nampak kasat mata, namun indikasinya sangat mempengaruhi pikiran, plus mengendalikan tindakan.

Cinta adalah bagian dari fitrah, jika manusia tidak memiliki cinta, maka hilanglah sebahagian dari fitrahnya.. Maka bersyukurlah orang-orang yang memiliki cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat dan benar.


Cinta adalah sifat fitrah manusia yang di berikan Alloh sejak manusia terlahir dari rahim seorang ibu..


Cinta itu laksana pohon dalam hati. Akarnya adalah ketundukan kepada yang di cintai. Dahannya adalah memahami. Rantingnya adalah takut kehilangan yang di cintai. Daunnya adalah cemburu. Buahnya adalah kebahagiaan. Dan air yang menghidupinya adalah kebersamaan dengan sang kekasih..



Bagaimana Islam memberi hakikat tentang CINTA?


Cinta (al-mahabbah) merupakan fitrah emosional yang di anugerahkan Alloh SWT pada seluruh manusia. Bagi seorang muslim, cinta haruslah berdasarkan syariat. Karena bisa jadi apa yang kita cintai itu justru sesuatu yang buruk.. (QS. Al Baqoroh:216). Jika tidak demikian, betapa banyak orang yang akan menjadi korban akibat tidak tahu menempatkan arti cinta ini..


“Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)


Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta. Tapi mengarahkan  tetap pada rel yang menjaga martabat, kehormatan, dan hawa nafsu yg berlebihan atau tidak pada tempatnya. Hal ini berlaku pada manusia laki-laki terhadap perempuan, dan sebaliknya maupun cinta terhadap harta dan lainnya.


“Dijadikan indah pada padanga manusia keCINTAan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Alloh tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imron:14)


Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Alloh.
Yaitu, mencintai sesuatu dengan menjadikan Alloh sebagai penyebab cintanya..
Kecintaan yang terekspresikan harus menjadi amal sholeh bagi pelakunya..


Maka dari itu kecintaan meskipun baru tersirat dalam hati dan belum terlaksana, tetap akan mendapat pahala di sisi Alloh..


Ajaran cinta islami yang mesti disemaikan bukanlah sebatas sesama muslim. Tapi justru sesama manusia dan sesama makhluk.


Rasulullah SAW bersabda: “Hakikat seorang muslim adalah, mencintai Alloh dan Rasulnya, sesamanya, serta tetangganya, melebihi atau sebagaimana ia cinta kepada dirinya sendiri” (HR. Imam Bukhari).


Kepada siapakah kita bisa jatuh cinta?


1.    Kepada harta.
2.    Kepada tahta/jabatan/kedudukan/karier.
3.    Kepada wanita/pria/anak-anak (keturunan).


“Dijadikan indah pada padangan manusia keCINTAan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Alloh tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imron:14)


Saya akan mencoba menguraikan satu per satu tentang 3 cinta itu..

1.   Cinta kepada harta.
Kecintaan manusia terhadap harta, perhiasan, kendaraan terbaik, adalah suatu keniscayaan..
Tidak ada satupun manusia yag tidak mencintai harta.. Namun akal dan iman yag mampu membatasi keinginannya akan harta yang tidak terbatas. Rasululloh mengatakan untuk hali ini bahwa “Jika engkau mampu menguasai 1 bukit emas, niscaya engkau  menginginkan bukit yang kedua, ketiga dan seterusnya..”
 

Seorang Ali bin abi Thalib terkenal sebagai orang yang kaya pada zamannya.. Beliau memiliki kebun kurma yang luas dan berbuah lebat. Suatu hari ketika beliau sedang menikmati kebunnya, datanglah adzan dzuhur.. Namun beliau lalai karena sedang memperhatikan burung yang sedang bercengkrama di kebunnya.. Lalai hingga tertinggal sholat jamaah.. Akhirnya, dengan penuh penyesalan dan kesadaran bahwa harta yang di milikinya tidak membawanya pada ketaatan kepada Alloh awj,, di infaq-kanlah seluruh kebunnya..

Sebuah pelajaran yang melahirkan banyak inspirasi tentang cinta.. pengorbanan dan ketaatan..



2. Cinta kepada tahta/jabatan/kedudukan/karier.
Bahwa betapa banyak manusia yang terjebak dalam kesibukan mengejar harta, jabatan da karier..
Mungkin ada awalnya hanya sekedar berniat unntuk sekedar memenuhi kebutuhan.. Namun seiring dengan waktu, adanya kesempatan dan peluang, maka karier semakin baik dan jabatan semakin menggiurkan.. Saat itu fikiran dan tenaga sangat terfokus ada pekerjaan.. Sehingga lupa akan niat awal.. Terjebak pada kesibukan, dan akhirnya mau tidak mau harus ada yang di korbankan.. Perhatian pada keluarga, anak, dan yang utama yaitu sholat.



Khalid bin Walid sangat pantas di teladan untuk hal ini. Ketika perintah penggantian panglima ditengah berkecamuknya perang, dengan sangat legowo dan besar hati Khalid mengikuti apa yang di perintahkan Umar ibn Khatab padanya untuk mundur dari jabatannya sebagai panglima, karena di khawatirkan dirinya maju di garis depan karena jabatannya dan keyakinan masyarakat bahwa di bawah pimpinan Khalid, pasti kemenangan akan diraih. Bukan karena Alloh..
 

3. Cinta kepada wanita/pria/anak-anak (keturunan).
Disini banyak sekali contoh kehidupan yang bisa kita jadikan pelajaran.. Betapa banyak cinta lawan jenis (pasangan kekasih) yang berakhir tragis.. Tidak mendapat restu, hamil di luar nikah, ataupun yang berakhir denga unuh diri atau di bunuh. Semua atas nama cinta..

Kecintaan yang berlebihan pada anak-anak kita juga tidak selalu membawa dampak positif. Kemanjaan berupa pemenuhan gaya hidup dan tuntutan yang sebenarnya tidak (belum) layak di penuhi, terkadang menjadi “pelunasan hutang dosa” bagi orag tua yang jarang bertemu dengan anak karena sibuk di luar rumah..

Kebanggaan kita pada mereka akan prestasi yang bersifat keduniaan terkadang melupakan sisi akhirat.. yang justru lebih kekal bagi mereka..

Walaupun tidak dapat kita sangkal bahwa cinta pada anak adalah fitrah..naluriah..yang di berikan Alloh..tidak hanya kepada manusia, tetapi juga hewan.. “Alloh memiliki 100 cinta. Satu cinta di tebar di permukaan bumi sehingga induk unta menggeser kakinya agar ia tidak mengnjak anaknya.”



Demikian pula nabi Ayyub as, yang menjadi buta menangisi Yusuf anaknya, yang di buang oleh saudara-sadara tirinya..

Namun ketaatan nabi Ibrahim as yang di uji keimanannnya oleh Alloh swt untuk menyembelih putranya yang ketika bayi di tinggalkannya di gurun pasir, kemudian tak lama setelah bertemu, justru di perintahkan untuk di sembelih.. Sangat layak untuk kita jadikan pelajaran.. Bahwa ketaatan pada Alloh mengalahkan fitrhnya kasih sayang seorang ayah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar